A.
Bentuk Keadaan Pemerintahan Bani Abbas
Awal
masa kekuasaan dinasti bani Abbas diawali dengan pembangkangan yang dilakukan
oleh dinasti umayah di Andalusia. Di satu sisi abdur Rohman al-daklil bergelar
Amir (jabatan kepala wilayah ketika itu) sedang di sisi lain, ia tidak tunduk
pada Kholifah yang ada di Baghdad. Pembangkangan Abdur Rohman al-daklil
terhadap bani Abbas mirip dengan pembangkangan yang dilakukan oleh mua’wiyah
terhadap Ali bin Abi Tholib[1].
Dari
segi durasi, kekuasaan dinasti Bani Abbas termasuk lama, yaitu sekitar lima
abad (133- 656 H/ 750- 1258 M),ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang
sangat pesat dan sekaligus berhasil menyiapkn landasan bagi perkembangan
filsafat dan ilmu pengetahuan dan masa pemerintahan bani Abbas di bagi menjadi
beberapa fase,menurut Ira M. Lapidus, menyederhanakan fase dinasti bani abbas
menjadi Dua:
1.
Pertama,
masa Awal dinasti bani Abbas (750-833 M)
2.
Kedua,
masa kemundurannya (833- 945 M).
Adapun
Badri Yatim membagi fase dinasti bani Abbas menjadi lima periode:
o Periode pertama atau pengaruh Persia pertama
(750- 847 M).
o Periode kedua atau periode pengaruh turki
pertama (750- 847 M).
o Periode ketiga atau periode pengaruh Persia
kedua yang ditandai dengan penguasaan Baghdad oleh dinasti Buwaihi (945-1055
M).
o Periode keempat atau periode pengaruh turki
kedua ditandau dengan penguasaan Baghdad oleh Dinasti Saljuk.
o Periode kelima
Kali
pertama pendiri dinasti Abbas adalah abu al-Abbas Al safah (750- 754 M). akan
tetapi, karena kekuasaannya sangat singkat maka Abu Ja’far al Mansur menggantikannya
(754- 775 M) dan banyak berjasa dalam membangun pemerintahan dinasti Abbas.
Pada tahun 762 M, Abu ja’far al- Mansur memindahkan ibu kota dari damaskus ke
hasyimiyah, kemudian dipindahkan lagi ke Baghdad dekat dengan etesiphon bekas
ibu kota Persia. Oleh karena itu, ibu kota pemerintahan dinasti bani Abbas
berada di tengah-tengah bangsa Persia.
Sistem
pemerintahan baru yang di ciptakan oleh abu ja’far al- Mansur adalah
pengangkatan wazir sebagai coordinator departemen. Wazir pertama adalah Kholid
bin Barmak yang berasal dari Persia. Al-Mansur juga membentuk lembaga protocol
negara, sekretaris negara, kepolisian negara disamping angkatan bersenjata, dan
lembaga kehakiman negara.
Dari
sini dapat didimpulkan, pendiri dinasti bani Abbas adalah Abu al-Abbas al-safah
dan Abu Ja’far al-Mansur, sedangkan masa kejayaan dinasti ini berada pada fase
delalapan Kholifat berikutnya, al-Mahdi (775- 785 M), al-Hadi (775+ 786 M),
Harun ar-Rosyid (786- 809 M) popularitas daulah abbasiah mencapai puncak
keemasanya pada masa khalifah harun ar-rosyid .pada masa ini kekayaan Negara
banyak di unakan untuk pengembangan ilmu pengetahuan ,sehingga muncul 800 orang
ahli kedokteran. Selain itu dana tersebut juga di manfaatkan untuk keperluan
social, pembangunan rumah sakit l, lembaga pendidikan dan farmasi , al-Amin
809- 813 M),setelah Harun ar-rasyid meniggal. Kekhalifahan diganti oleh
al-Makmun (813- 833 M) pada masa ini penerjemahan buku-buku asing di galakan
dan banyak mendirikan sekolah-sekolah di antaranya mendirikan Baitul Hikmah ,
Irak sbagai perguruan tinggi degan perpustakaan besar dan pusat penerjemahan ,
pada waktu itu , Bagdad menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan , selain
sebagai ibukota Negara yang sangat berpengaruh di dunia, al-Multasim (833- 842
M), al-watsid (842- 847 M), al-Mitawakkil (847- 861 M).
Kemunduran
dinasti bani Abbas ditandai dengan adanya pertikaian internal dinasti bani
Abbas sebelum meninggal, Harun al-Rosyid telah menyiapkan dua anaknya yang
diangkat menjadi putra mahkota untuk menjadi kholifah ya’ni al-Amin dan
al-MAkmin. Al-Amin diberi hadiah berupa wilayah bagian barat, sedangkan
al-Makmun diberi hadiah beripa wilayah bagaian timur, setelah Harun ar-Rosyid
wafat (809 M), al-Amin putra mahkota tertua, tidak bersedia membagi wilayahnya
dengan al-Makmun. Oleh karena itu pertempuran dua bersaudara terjadi yang
akhirnya dimenagkan oleh al-Makmun. Setelah perang usai al-ma’min berusaha
menyatukan kembali wilayah dinasti bani Abbas. Untuk keperluan itu, ia didukung
oleh Tahir panglima militer, dan saudaranya sendiri yaitu Mu’tyasim.
Faktor
lain kemunduran dinasti Abbas itu sendiri adalah adanya faham mu’tazilah yang
dijadikan sebagai madzhab resmi pada masa pemerintahan al-Ma’mun. Dijelaskan
bahwa faham mu’tazilah dijadikan alat oleh al-Ma’mun untuk menguji para pemuka
Agama dan hakim adalah ajaran tentang kemakhlikan al-Qur’an. Dan munculnya juga
aliran Ahl al-Sinnah yang mana dipelopori oleh Abu al-hasan ali bin Ismail
Al-Asy’ari, beliau adalah murid al-Juba’I (Mu’tazilah). Perdebatan antara al-Juba’I
dengan al-Asy’ari membuat murid mengubah sikap, yaitu menyatakan diri keluar
dari mu’tazilah Dari segi ketundukan kepada kholifah, dinasti-dinasti kecil
dapat dibedakan menjadi dua dinasti yang mengakui kholifah Abbasiah, dan
dinasti yang tidakj mengakui kholifah tersebut. Sedangkan dari segi letak
geografis, dinasti-dinasti kecil dapat dibedakan menjadi dua, dinasti –dinasti
kecil di timur Baghdad, thahiri, safari, dan samani. Dan dinasti-dinasti kecil
di barat Baghdad, Idrisi, Aglaby, Thulub, Hamdani, dan Ikhsidi. Akan tetapi,
terdapat dua dnasti kecil yang secara langsung mengusai beghdad, Buwaihi, dan
Saljuk.
B.
Usaha-usaha Dakwah Pada Masa Pemerintahan Dinasti Bani Abbas
Masa pemerintahan dinasti Abbasiah merupakan
masa keemasan bagi dunia islam, karena pada masa ini perkembangan islam sangat
meningkat, salah satumya adalah usah dalam rangka memajukan ilmu pengetahuan,
termasuk ilmu agama.
A. Perkembangan Ilmu Agama
1. Kalam Mu’tazilah
Pada
zaman dinasti Abbasiah fase pengaruh Persia pertama, aliran mu’tazilah yang
dirintis oleh wasil al-atha pada zaman umayah diteruskan oleh murid-muridnya
dan dikembangkan. Toko mu’tazialah kedua adalah Amr ibn Ubaed (699- 757 M).
gagasan pokok yang menjadi ajaran mu’tazilah adalah al-Amr bi al-Ma’ruf wa
al-nahyan al-Munkar
2. Hadist Dan Fiqh
Malik
ibn Anas ibn Abi Amr al-Ashbali di lairkan di Madinah pada tahun 97 H, ia hidup
pada zaman pemerintah umayah selama 40 tahun, dan sisanya yakni 46 tahun di
habikan pada zaman bani Abbasiah, Imam Malik wafat tahun 179 H.
Imam
Malik menyaksikan beberapa pemberontakan dan kedzaliman yang dilakukan oleh
para pemimpin politik, seperti penindasan yang dilakukan terhadap keturunan Ali
bin Abi Tholib, beliau menyikapi pemberontakan tersebut dengan berpendapat
“apabila seorang kepala negara mampu berlaku adil, dan masyarakat senang
menerimanya, maka kita tidak boleh memberontak terhadapnya, dan jika ia tidak
berlaku adil, rakyat harus sabar dan memperbaiki orang yang menjadi kepala
negara, tapi apabila ada yang memberontak karena ketidak adilan tersebut, kita
tidak boleh membentu pemerintah dalam menindas pemberontak tersebut, karya
tertulis yang di hasilkan oleh imam malik yang sampai saat ini masih dapat kita
baca adalah Al-Mutawattho’, kitab ini merupakan kitab hukum islam yang outentikyang
pertama dan juga merupakan kumpulan hadist Nabi Muhammad SAW.
Ulama’
yang lainnya adalah Muhammad ibn Idris al-Syafi’I (150-204H). Imam Syafi’I
menghasilkan tiga karya besar dalam tiga bidang ilmu, al-Umm dalam bidang
Fiqih, Ar-Risalah dalam biudang Ushulul fiqh, dan Fiqih al-Akbar dalam bidang
Ilmu kalam.
Selain
ulama’ tersebut diatas, jhga terdapat ulama besar yang lahir antara lain:
o Zakaria al-Rozi atau yang lebih dikenal
dengan Razhes (bahasa latin), beliau adalah ahli kedokteran klinis. Dan penerus
ibn hayyam dalam pengembangan ilmu kimia. Ia melakukan penelitian empiris
dengan menggunakan peralatan yang lebih canggih disbanding dengan kegiatan
ilmiah sebelumnyadan mencatat setiap perlakuan kimiawi yang dikenankannya
terhadap bahan-bahan yang di telitinya serta hasilnya. Bukunya merupakan buku
manual laboratium kimia yang pertama[7].
o Al-faraby yang di kenal di dunia barat dengan
nama Alpharasius, seorang filosof yang juga ahli dalam fisika, ia menulis kitab
al-musiqa dan masih banyak karya tulis yang lainnya.
o Abu Rahan Muhammad al-Biruni yang diberi
gelar oleh Akbar S. Akhmad dengan gelar ahli Antropologi pertama (bapak
Antropologi). Argumentasinya adalah karena al-Biruni seorang observer
partisipan yang luas tentang masyarakat “asing” dan berupaya mempelajari naskah
primer dan pembahasannya beliau juga ahli matematika, astronomi, dan sejarah.
Al-Baruni menulis buku kitab al-Hind atau tahqiq ma al-hind, kitab al-saidina
yang berisi sejumlah informasi mengenai pengobatan pada waktu itu.
o Ibn Sina yang dengan nama latinnya Avicema,
beliau adalah ahli dalam bidang kedoktoran filsafat. Karya besarnya dalam
bidang kedoktoran adalah al-Danun fi al-Thib. Buku ini selama lima abad menjadi
buku pegangan di Universitas-universitas Eropa.
o Umar Khayyam adalah ahli astrinomi,
pedoktrinan, fisika dan sebagaian besar karyanya dalam bidang matematika, akan
tetapi, beliau lebih dukenal sebagai penyair dan sufi. Beliau adalah penemju
koeefesien-koefesien binominal dan memecahkan permasalahan- permasalahan kubus.
A.
Kesimpulan
Pemerintah dinasti Abbasiyah kali pertama
dipimpin oleh Abu Abbas al-Safah. Yang mana bani Abbas ini berlangsung selama
kurang lebih tiga setengah abad. Dalam kurun waktu yang bnbegitu lama maka
pemerintahan ini dibagi menjadi lima fase.
Dalam suatu pemerintahan adakalanya mencapai
masa pendirian, masa kemajuan dan masa kemunduran, begitu halnya dengan
pemerintahan bani Abbas sendiri, yang mana pendiri dinasti bani Abbas yaitu Abu
Abbas al-Salaf dan Abu Ja’far al-Mansur. Kemudian masa kemajuan atau keemasan
terjadi pada fase kedelapan kholifah berikutnya yaitu Al-Mahdi, Harun ar-Rosyid,
dan sampai pada al-mutawakkil. Masa kemunduran juga manimpa dinasti Abbas
sendiri. Beberapa faktor penyebabnya antara lain, adanya faham mu’tazilah yang
dijadikan sebagai madzhab resmi negara. Dan munculnya dinasti-dinasti kecil
yang tidak mengakui pemerintahan ini.
Kemajuan yang dicapai bani Abbasiah pun
beragam, terlebih dalam urusan Ilmu pengetahuan, ilmu Agama pun ikut berkembang
pesat.
Munculnya ilmu kalam mu’tazilah, juga
munculnya para ulama’ besar dalam berbagai ilmu pengetahuan, seperti halnya Imam
Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Syafi’i mereka adalah ahli dalam bidang
hadits dan fiqih, katya tulis mereka pun banyak dipelajari oleh para pelajar,
seperti Al-Mutawattho’ karya tulis Imam MAlik, juga karya tulis yang di
hasilkan oleh Imam Syafi’I, yaitu kitab Al-Umm dalam bidang fiqh.
Selain ulama’ besar di atas juga terdapat
para ulama’ yang lain seperti Zakaruyah al-Rozi seorang ahli kedokteran klinis
dan penerus Ibn Hayyan dalam pengembangan ilmi kimia. Al-Farabi atau yang lebih
dikenal dengan Alpharabius seorang filosof dalam ilmu logika, matematika dan
pengobatan. Dan juga Ibnu Sina atau Aucenna yang ahli dalam bidang ilmu
kedokteran dan filsafat.
Oleh karena itu, kejayaan Islam pada masa
Bani Abbasiah bisa dijadikan potret masa depan Islam di masa mendatang. Dan
untuk mencapai dan memiliki kejayaan dan kemajuan islam kembali.
B.
kritik dan Saran
Ungkapan terima kasih kepada pembaca dan
pendengar makalah ini , dan partisipasi dari kalian sangat pemakalah harapkan,
Karen makalah ini masih dari yang namanya sempurna. Dan terutama bagi bapak
Moh. Rofiq selaku pengampuh materi kuliyah sejarah dakwah beribu terima kasih
dan maaf. Karena apa jadinya kami kalau tanpa bimbingannya, dan untuk
kesabarannya dalam mendidik kami.